Written by 12:38 pm Artikel Kucing

Hukum Kucing dalam Islam, Boleh atau Tidak?

Hukum Kucing dalam Islam, Boleh atau Tidak?

Kucing adalah salah satu hewan peliharaan favorit yang banyak dipilih para pencintanya sebagai hewan kesayangan di rumah. Hewan yang lucu dan menggemaskan ini pastilah pandai membuat orang yang di sekitarnya merasa senang.

Terlepas dari itu, ada pula beberapa kalangan yang menganggap kucing sebagai hewan menakutkan yang bisa membahayakan nyawa manusia. Lalu, bagaimana ya kira-kira pandangan Islam tentang memelihara kucing? Bukankah mayoritas penduduk di dunia beragama Islam.

Jadi, tak ada salahnya bukan jika kita tahu sudut pandang Islam tentang kucing. Apakah Islam memperbolehkan atau melarang.

Cerita Dibalik Seekor Kucing

“Ada yang senang ada yang benci”. Itulah kalimat yang tepat saat menggambarkan seekor kucing. Ketika Anda bertanya pendapat soal kucing pada cat lovers pastilah mereka akan menjawabnya dengan kalimat yang indah tak kalah seperti saat mereka jatuh cinta pada seseorang.

Sebaliknya saat Anda bertanya kepada orang yang tidak menyukai kucing, mereka akan menjawabnya dengan opini seperti ketika mereka bertemu musuh bebuyutan di siang bolong. Begitu pula saat anda mengorek dan ingin tahu tentang mitos seekor kucing, mitosnya pun menyuguhkan informasi yang beragam. Penasaran?

Salah satu mitos yang sampai sekarang masih dipercaya di tengah masyarakat adalah kucing memiliki nyawa lebih dari satu.

Lihat juga nama kucing betina

Bahkan menurut mitos tersebut kucing memiliki sembilan nyawa. Tidak berhenti disitu saja, konon katanya ketika Anda menyakiti seekor kucing, misalnya Anda menabrak kucing tersebut walaupun tidak sengaja, Andapun bisa terkena celaka.

Agar terhindar dari celaka, seseorang yang menabrak kucing tersebut harus berhenti dan menguburkan kucing dengan baik. Hal tersebut disamping sebagai bentuk rasa kemanusiaan, juga bisa dijadikan sebagai sarana tolak balak terhadap karma kucing. Tak kalah menyeramkan dari cerita horror bukan?

Agak sedikit berbeda dengan mitos sebelumnya yang menjadikan kucing sebagai makhluk yang misterius. Pada zaman Mesir Kuno, masyarakat percaya bahwa kucing adalah hewan turunan para dewa. Sudah pasti hewan penjelmaan para dewa tersebut tidak biasa dan berbeda dari hewan yang lain.

Sama seperti mitos sebelumnya, masyarakat mesir Kuno percaya bahwa kucing memiliki Sembilan nyawa dan bisa memberikan sebuah karma. Maka dari itu, masyarakat memperlakukan kucing dengan sangat baik dan mereka menyebut kucing sebagai hewan yang suci.

Hadist Kucing dalam Islam

Islam adalah agama yang banyak dianut oleh penduduk di dunia. Islam dikenal sebagai agama yang memiliki toleransi yang tinggi. Bukan hanya kepada sesama manusia saja, melainkan toleransi juga harus diterapkan kepada seluruh makhluk Tuhan, tak terkecuali kucing.

Dalam Islam, kucing dikatakan sebagai hewan kesayangan Nabi Muhammad.

Sebagai makhluk kesayangan tentunya kucing akan diperlakukan dengan baik. Meskipun demikian, sebagai agama yang memuliakan kucing, Islam tidak membenarkan jika kucing memiliki sembilan nyawa apalagi sampai memberikan karma.

Menurut agama Islam, karma yang lebih dikenal dengan nama dosa hanya akan didapatkan oleh orang yang melanggar perintah Tuhan. Inilah beberapa bukti bahwa Islam menyuruh penganutnya untuk memuliakan kucing.

Dalam beberapa hadist disebutkan bahwa Nabi Muhammad menyuruh pengikutnya untuk bersikap baik terhadap kucing. Salah satunya disampaikan dalam satu hadist yang diriwayatkan oleh Bukhori.

Bunyi hadist tersebut adalah “Seorang wanita dimasukkan ke dalam neraka karena seekor kucing yang diikatnya dan tidak diberi makan, bahkan tidak diperkenankan makan binatang-binatang kecil yang ada di lantai” Hadist tersebut menceritakan seorang wanita yang masuk neraka karena ia tidak memperlakukan seekor kucing dengan bagi.

Cerita itu tentunya dapat dijadikan sebagai bukti bagaimana posisi kucing dalam hukum Islam. Muslim dianjurkan memperlakukan kucing dengan baik karena memuliakan kucing termasuk amal ibadah yang bisa mendatangkan pahala atau dosa.

Bukti lain betapa Islam memuliakan kucing dapat dilihat dari hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Dawud dan Ibnu Majah. Hadist tentang kucing itu berbunyi “Ya Anas, kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu bahkan tidak ada najis”.

Dalam hadist tersebut disampaikan bahwa kucing adalah hewan yang suci. Tentu saja hewan yang suci tidak akan membawa najis ataupun bahaya penyakit bagi pemiliknya. Itulah salah satu alasan mengapa Islam memperbolehkan muslim memelihara kucing.

Hadist di atas sebenarnya adalah penggalan kisah bagaimana cara nabi memuliakan kucing. Pada saat itu sahabat Nabi yang bernama Anas sedang membawakan air untuk Nabi. Air yang ditaruh dalam sebuah bejana tersebut akan digunakan Nabi Muhammad untuk berwudhu.

Namun, pada saat Nabi berwudhu, mendekatlah seekor kucing ke bejana dan langsung meminum air dalam bejana. Yang dilakukan Nabi adalah menunggu kucing selesai minum barulah melanjutkan wudhunya. Sikap Nabi yang demikian bisa dijadikan sebagai bukti lain bagaimana Nabi Muhammad begitu menyayangi kucing.

Tidak hanya sekali dua kali Nabi menunjukkan kecintaannya pada kucing. Salah satu kecintaan beliau juga bisa disimpulkan lewat kisah bagaimana Nabi memuliakan Mueza, kucing kesayangan Nabi. Pada suatu ketika Mueza sedang tidur. Ia menggunakan jubah Nabi untuk alas tidurnya.

Bukannya langsung membangunkan sang kucing, Nabi malah beberapa saat menunggu Mueza bangun. Namun, Mueza agaknya tertidur pulas sehingga ia tidak terusik sedikitpun akan keberadaan Nabi didekatnya. Alhasil, saking cintanya Nabi terhadap Mueza, ia rela memotong lengan pada jubahnya agar Mueza tetap terlelap.

Sekarang Anda sudah tahu bagaimana hukum memelihara kucing dalam Islam. Islam memperbolehkan umatnya untuk memelihara kucing karena kucing tidak memiliki najis. Bahkan Nabi pun mengatakan bahwa memelihara kucing adalah termasuk sunahnya. Jadi, tertarikkah Anda untuk memelihara kucing?

Kucing adalah hewan yang suci menurut Islam sehingga dalam Islam memelihara dengan baik seekor kucing adalah sebuah Sunnah dari Nabi Muhammad.

Last modified: March 21, 2020